Jumat, 05 Maret 2010

Ikhwan muda di rumahku

Tanggal 12 September 2009 ini saya membuka usaha "jasa penyetrikaan" di rumah. Nah, pendek cerita, saya menemukan selembar baju koko yang dicurigai bukan milik anggota keluarga ini. Soalnya ukurannya seperti baju anak SD, keciiill sekali badannya.

“Maaah, ini baju siapa?”. Mamah menengok sebentar, “baju Dede.” Hah, masa sih sekecil ini? Terus baju itu dibalik. Ternyata di bagian dalam baru ketahuan kalau baju itu dikecilin dan jahitannya sungguh tidak rapi. “kok dikecilin, Mah?” lalu Mamah menjawab, “dikecilin sama Dede tuh. Kan Mamah teh nggak mau ngecilin, terus Dede malah minta diajarin pakai mesin jahit. Eh bisaeun geuning.”

Adikku kelas IX SMP. Ceritanya pengen kelihatan gagah dan sigap (namanya juga anak pramuka). Baju seragamnya (dan baju apapun) dikecilin sendiri biar pas badan dan nggak gogolombrangan (alah apa bahasa indonesianya, kedodoran). Ya, dia memang sudah bisa menjahit pakai mesin jahit sejak kelas VII, walaupun hasilnya nggak bagus-bagus amat (nggak tega bilang jelek, heuu). Paling nggak adikku nggak perlu minta bantuan Mamah jika ingin mengecilkan baju atau menjahit benda-benda kecil.

Bapak juga bisa menjahit. Kadang-kadang bikin lap juga. Jadi di keluarga saya semua orang sudah bisa menjahit

\(^o^)/

Itu memang skill sederhana, tapi nggak ada salahnya untuk dipelajari dan dikembangkan. Jadi, apakah anda tertarik belajar menjahit?

Bersilat Lidah

Suatu hari datanglah seorang tetangga yang rumahnya berjarak dua rumah dari rumah kami, Aki Beben, begitu kami memanggilnya. Beliau yang peternak kerbau menawarkan daging pada Mamah. Berhubung anak-anak kurang suka daging kerbau dan lagi ingin ngirit, Mamah menolak penawaran tersebut. Tapi nggak enak juga kalau harus menolak secara langsung, bisi Akinya tersinggung.
Akhirnya Mamah bilang,
Ki, aya letahna teu? Pesen letahna we, moal ah dagingna mah.
(Ki, ada lidahnya nggak? Pesan lidah aja, nggak ah dagingnya mah).

Aya. Iraha peryogina, Neng? Aki meuncit mundingna Sabtu (ada. Kapan perlunya? Aki menyembelih kerbaunya Sabtu), jawab si Aki.

Euleuh, Sabtu teh nyeta bade angkat. Pan lebaranna di Cibadak, kata Mamah.

Kumaha atuh nya?” si Aki tampak kebingungan.

kieu we atuh, Ki. Meuncitna mah Sabtu wae, ngan eta letahna dipayunkeun diala (gini aja, Ki. Nyembelihnya Sabtu aja, tapi lidahnya diambil duluan), kata Mamah sambil cengengesan.

Hor, kumaha maenya letahna heula diteukteuk nyah?(gimana, masa lidahnya dulu dipotong?) si Aki masih kebingungan. Beberapa lama kemudian si Aki tertawa, baru ngeh rupanya.

Ah, ieu mah ari geus ngaheureuyan aki-aki teh (ah, ini mah kalau udah ngisengin kakek-kakek teh), Ki Beben masih tertawa.

Beberapa hari kemudian Aki Beben datang lagi ke rumah.

Neng, hampura nya Aki teu bisa nedunan pamenta. Teu aya letahna mah, kaburu ku batur. Dagingna we atuh (maafin Aki nggak bisa memenuhi permintaan. Nggak ada lidah mah, keduluan orang lain. Dagingnya aja atuh), begitu katanya.

Sambil senyam-senyum penuh kemenangan Mamah menjawab, ah hoyongna oge letah, Ki.

Aki Beben akhirnya pamit sambil bilang, Engke atuh nya pami aya letah ku Aki dianteurkeun kadieu( nanti atuh ya kalau ada lidah sama Aki dianterin ke sini).

Penolakan biasanya bisa menyebabkan fraktura hepatica (patah hati).

Ritual Kembang Melati




Terkadang prioritas yang telah kita tetapkan kalah pamor sama jarkom. Bukan bermaksud protes apalagi mengeluh, hanya ingin meminta. Meminta izin, do’a, dan restu. Saya harus pulang kampung secepatnya.

Sebenarnya tidak ada hal emergency yang mengancam keselamatan nyawa, hanya hape berdering lebih sering dari biasanya dan message yang lebih intens dari sebelumnya. Intinya, “kapan pulang?”

Jum’at, 11 September 2009 aku memutuskan untuk segera kabur dari keriuhan kampus. Menuju Cibiru, keluarga Bibi yang ditinggalkan selama berminggu-minggu tanpa ada kabar aku sedang apa dan sedang di mana. Kalau tidak ada aral menghadang, besok paginya baru akan meluncur ke kampung halaman.

Biasanya kalau pulang cuma membawa tas ransel kosong. Enggak deng, paling isinya mushaf, charger hp, dompet, air minum, apalagi ya? Udah segitu. Berhubung di liburan sekarang banyak proyek yang harus diselesaikan (laporan biosistematika, genetika, kimia organik, anfiswan, dan esai analisis Ramadhan Bersama Mereka) jadi bawa banyak barang. Satu ransel berisi laptop doang (biar bisa dipangku di bus), satu ransel isinya buku-buku penuntun praktikum, baju, dan pernak-pernik lainnya. Satu lagi, tas jinjing kecil. Isinya? Apalagi kalau bukan botol kultur drosophila.

Kali ini mengambil jalur perjalanan yang tidak biasa. Alih-alih berangkat dari terminal, aku memilih untuk cari bus jurusan Cianjur dari tol Cileunyi. Berangkat dari rumah pukul 06.15 (telat 15 menit dari rencana karena terpincut baca majalah Kartini yang meliput acara kontes Miss Beautiful Morals di Saudi Arabia), tiba di tol sekitar 15 menit kemudian.

Perjalanan Bandung-Cianjur biasa-biasa saja (tidur terus sih!). Sampai di Terminal Pasirhayam yang kosong melompong pukul delapanan. Setengah jam kemudian bus menuju Sukabumi baru datang. Perjalanan Cianjur-Sukabumi juga biasa-biasa saja karena sepanjang perjalanan tidur juga. Lagipula melihat deretan bangunan di pinggir jalan tak terlalu istimewa. 

Pukul 10an turun di ABC (entahlah nama asli daerah itu apa, yang jelas kondektur bakalan teriak, “ABC.. ABC..!!”). Kenapa tidak turun di terminal? Jawabannya supaya bisa jalan kaki bernostalgia menikmati suasana kota. Jalan kaki sepanjang pertokoan, sampai akhirnya bertemu dengan pasar kaget-yang-mau-tidak-mau-harus-dilewati. Becek, sumpek, bau, terik, gerahhh, bawaan banyak, rawan copet… haus? Sangadhh.. rasanya seperti cucian yang sudah kering dan merana.

Kusarankan bagi kalian untuk tidak terlalu mempercayai supir angkot yang merayu-rayu bilang, “hayu Neng, angkat ayeuna (berangkat sekarang).” Itu bohong, Kawan. Itu Bohong!!

Hhh.. kira-kira pukul sebelas, sampai juga di Terminal Lembur Situ. Di sana sudah menunggu seorang kawan, Matematika ITB ’07. Lho, mana busnya?

Ya, di sinilah kami! Dalam suasana yang gerah abizz, bau asem, haus parah, berdesak.. duduk berdempetan di sebuah mini bus yang dalam bahasa lokal disebut elf. Dua orang mahasiswi dengan bawaan banyak bertumpuk di pangkuannya (laptop, satu tas kripik, dan kandang drosophila tentunya) asik-asik saja mengobrol tentang kuliah, da’wah, dan…**tiiiiiiit. Kami asyik mengobrol sampai rasanya 20.000 kata terlampaui.

Jika jalanan menuju Jampangkulon dianalogikan sebagai seekor ular, ular itu pastinya ular yang lincah. Meliuk ke kanan ke kiri tanpa peduli seberapa dalam curam-curam yang menganga di tepiannya. Tapi tak dapat dipungkiri, alam liar Pajampangan luar biasa indah! Daerah Sukabumi selatan yang cantik sekaligus belum terlalu terjamah polusi.

Jika kalian ingin melihat hamparan perkebunan teh, kalian bisa menemukannya di sini. Jika kalian senang memandang tanaman-tanaman pisang tumbuh menclok-menclok di padang ilalang, silakan saksikan di sini. Atau kalian ingin melihat pohon-pohon besar menyeramkan menaungi jalan? Atau bunga-bunga liar yang bersembunyi dalam rerimbunan? Atau pohon-pohon karet yang berbaris rapi? Atau conifer yang menjulang? Atau kawanan (kawanan??) singkong di berjejer di pinggir jalan? Atau kumis kucing yang malu-malu? Atau mau lihat rumpun bamboo di pinggiran jalan? Jika beruntung, kalian dapat mendengar kicauan burung-burung dan nyanyian serangga hutan, bahkan oa/lutung/apalah itu namanya yang menjerit-jerit menyapa kalian, juga ayam yang bebas berlarian berkejaran. Dulu, dulu lebih amazing daripada semua itu! Dulu, ada hutan Pasirpiring yang benar-benar hutan belantara eksotik sampai-sampai orang yang baru pertama kali melewatinya tidak menyangka kalau setelah hutan itu akan ada pedesaan dengan konsep hidup yang sudah modern. Tapi manusia-manusia yang kelaparan memakan pohon-pohonnya sampai ke akar.

Ya, lupakan Pasirpiring. Mari kembali ke jalan pulang.

Selamat datang di rumah tanpa pagar! Selamat datang di area bebas macet dan tiada internet!! Ini rumah kami, JAMPANGKULON.

Hmmm, aroma rumah sudah mulai tercium. Kami melewati SMP yang kini pahebring-hebring sama RSUD di seberangnya. Terus melewati alun-alun yang padam dari gemerlap sebuah alun-alun pada umumnya. Dan berhentilah aku di depan Kantor Polisi. Ada seseorang berhelm merah dengan motornya yang sudah menunggu di sana. Hih, lagi-lagi pakai celana pendek. Dasar bocah!! “Hayu, Teh,” sapanya riang.

Motor kami melaju menembus kenangan yang menjulang di sepanjang jalan. Mengurai satu-satu kisah kocak masa kecil. Sekolah dasarku, pohon campolehku (apa sih bahasa indonesianya).. satu belokan lagi kami akan sampai. Rumah pelangi yang selalu kurindu untuk memasukinya. Ada mama dengan dasternya tersenyum menyambut kami. Dua nenekku (keduanya mantan kembang desa) tergopoh-gopoh menyambutku juga.

Aku belum shalat dzuhur nih! Singkat cerita, aku menemui sujud pertamaku. Hmm.. sajadah wangi. Di tengah kering-kerontangnya kerongkonganku, wangi ini mengingatkanku pada teh melati. Ya Allah, lemah sekali hamba-Mu ini, ckckck.. tapi beneran wangi melati lho!! Suka deh…

Aroma melati menguap seiring dengan semakin berat kelopak mataku. Akhirnya tidur siang di ruang tengah, haha setelah sekian lama melewatkan siang di bangku laboratorium.

Singkat cerita (lagi), adzan isya berkumandang. Mama sudah duluan pergi ke masjid dan aku masih di rumah ribut mencari kunci (penyakit kambuhan ni!!).

Saat sujud pertama, hm… wangi teh melati lagi. Padahal ini bukan sajadah tadi siang. Jangan-jangan saluran respiratoriku kemasukan teh melati tanpa kusadari.. oO-ow, yaiyalah wangi melati. Wong bunganya ngagunduk gitu di depan hidung. (aku baru menyadari kehadirannya setelah salam).

Kemudian mama dengan santainya memindahkan sekuntum melati ke lingkaran pertama pada motif sajadahnya. Setelah dua rakaat selesai, mama memindahkan melati di lingkaran pertama ke lingkaran berikutnya. Begitu seterusnya, tiap dua rakaat mama memindahkan melati itu sambil senyum-senyum nakal. Aku mau coba ngetes ah, “berapa rakaat lagi , Ma?”. “Empat lagi, witir tiga,” jawab Mama sambil memperhatikan posisi terakhir melati itu.

Kalau diingat-ingat, Ramadhan tahun ini Mama lebih rajin tarawih ke masjid (sebelumnya nggak bertahan sampai bilangan hari keduapuluhan). Rupanya Mama punya teman tarawih, Bu Ati namanya. Beliaulah supplier melati itu. Mereka berdua, setiap dua rakaat tidak lupa memindahkan melati ke lingkaran berikutnya di sajadah. Ya, pekerjaan yang sangat menyenangkan, membuat lupa akan betapa ngebutnya dua rakaat tadi dan menyemangati agar melati sampai di lingkaran finish.
Jadi semakin rajin taraweh, Ramadhan Mamah akan semakin wangi . . .

OASIS

Ingin berbagi, terutama dengan teman-teman 2008. Ini hanya sepenggal gambaran umum, masih baaaaanyak hal menarik yang belum ditulis

OASIS GAMAIS ITB 2009

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya …” (At-Taubah:122)

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..
Apa kabar ikhwah fillah? Semoga kita senantiasa berpagi hari dalam ridho-Nya dan menutup hari dengan syukur kepada-Nya.

Sedikit bercerita, ketika pertama kali ada oprek kepanitian OASIS via sms, saya sama sekali tidak berpikir untuk ikut. Saat itu saya hanya ingin peduli pada akademik setelah liburan akhir tahun tersita oleh diklat PROKM. Sampai akhirnya, datanglah saudara karib saya, korwat acara OASIS waktu itu, menawarkan pengalihan amanahnya sebagai korwat karena beliau sedang osjur. Hm… dasar tidak tegaan, saya sih iya-iya ajah. Lagi pula kondisi akademik di biologi sedang damai-damainya (pada akhirnya saya sadar itu adalah perkiraan yang salah.. -_-).

Ya, karier sebagai korwat acara pun dimulai. Sms jarkom mulai datang. Saya ingat, syuro’ koordinasi OASIS yang pertama kali saya ikuti adalah syuro’ bersama MSDA. Saya waktu itu culang-cileung karena peserta syuro’ mayoritas kakak-kakak MSDA sedangkan panitia 2008 hanya hadir beberapa (akhwat 2008 saya sendiri). Parahnya lagi, waktu itu saya ditanya tentang acara. Lalu dengan jujur saya jawab belum tahu apa-apa. Hm… sangatlah menyedihkan jika Anda menjadi orang yang paling tidak tahu apa-apa mengenai divisi Anda sendiri.

Dalam keberlangsungan acara, saya akui ada beberapa panitia yang tidak bisa terus-menerus hadir dalam kegiatan OASIS (ehm, kalimatnya seharusnya : ada beberapa orang yang terus-menerus tidak bisa hadir dalam kegiatan OASIS). Tapi mereka membantu di belakang layar, kok! Ada yang membuat TOR, ada yang bantu menjarkom, ada juga yang “meminjamkan” telinga untuk mendengar cerita keberlangsungan acara ^^

Saat itu, saya sendiri adalah mahasiswa ITB yang bekerja part time sebagai panitia OASIS. Padahal waktu KIT, saya adalah Bendahara yang nyambi sebagai mahasiswa ITB. Lho??? Adalah konsekuensi logis, ketika Antum punya dua amanah, bukan berarti membagi perhatian menjadi 50% untuk setiap amanah, tetapi jadilah 200% kamu yang menyempurnakan 100% dalam setiap amanah. Memang susaaaaaaah, Kawan! Kita masih harus banyak belajar.

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Q.S. 94:7)

Saya pikir, penting juga sih jika dalam suatu kepanitiaan ada tim yang mengontrol kondisi ukhuwah dan ruhiyah panitia, tidak hanya mengontrol kegiatannya. Kalimat bagus yang pernah saya dengar, ukhuwah akan terbentuk secara otomatis ketika kita sedang menuju ke arah yang sama (menuju ridho Allah) karena sejatinya ukhuwah itu adalah segitiga antara aku-kamu-dan Dia. Kita panitia, boleh dong mendapat bonus berupa suksesnya acara, sedangkan ukhuwah yang kuat dan semangat peningkatan ruhiyah adalah target wajibnya.

Kata teman-teman panitia saat evaluasi, acara biasa-biasa sahaja. Iya juga. Ada sih ada ide yang unik, tapi seringkali terbentur masalah SDM, dana, dan waktu yang mendesak. Seperti ungkapan, ide tercetus di kosan, diolah di angkot, dan pupus di kortim. Dalam konsep acara, pernah beberapa kali kita bermanuver mengubah konsep secara mendadak. Namun beruntung sekali, rencana kita sesuai dengan rencana Allah sehingga alhamdulillah acara berjalan juga.

Berikut ini rangkaian pembinaan yang dikemas satu paket dalam OASIS 2009 :
Pembukaan  Pengenalan Gamais
Pembinaan 1  Interaksi dengan Al-Quran
Training  Komunikasi Efektif dan Enterpreneurship
Acara angkatan 2009
Rihlah ke Dago Pakar
Temu Tokoh Kampus  Menggapai Impian dalam Perspektif Islam
Ta’lim  Cara Hidup Sehat ala Rasulullah
Pelantikan Kader Muda 2009
Pelantikan susulan

Alhamdulillah rangkaian acara OASIS telah selesai, namun da’wah kita baru berakhir ketika kita sudah yakin akan menjejakkan kaki di surga. Tidak berarti ukhuwah kita cukup sampai di sini. Tidak akan pernah ada kata “mantan saudara”, kan?

Kata-kata mutiara dari DKT II, jalan perjuangan sudah biasa sepi, tidak pernah ramai oleh hiruk-pikuk banyak orang. Di tengah turbulensi suatu lingkungan, seleksi alam adalah keniscayaan: yang kuat dan mampu beradaptasi dengan cepat akan bertahan dan yang lemah, kurang pendirian, dengan sendirinya akan tertinggal. Acara OASIS ini secuplik akhir dari episode awal karir da’wah adik-adik kita di kampus. Mari jaga adik-adik kita, kader muda Gamais 2009. Jika nanti kita ditanya, “Mana kader-kadermu?” Kita dengan mantap menjawab, “Di sini, mereka dalam barisan kokoh da’wah ini”.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (Q.S. Muhammad : 7)

Siapa tahu, siapa tahu, di padang ini lebih banyak unta merah yang bisa kita dapatkan.

Siapa tahu, siapa tahu, mereka yang akan menegakkan kalimat Allah di bumi Ganesha sehingga tidak ada kalimat lain selain-Nya

Jika hikmah yang didapat dari OASIS ditulis semuanya, rasanya dua-tiga buku tidak akan cukup. Sms tausyiah, jarkom, taujih, cerita… semua tentang OASIS adalah hikmah. Menyiapkan pembinaan untuk orang lain pada hakikatnya adalah melakukan pembinaan untuk diri kita. Adikku di rumah memang cuma satu, tapi di sini, di Gamais terutama OASIS ini saya dapat ratusan adik dan banyak kakak.

Ini ada sepotong hikmah yang dikutip dari “Things Fall Apart” Chinua Achebe, novel yang berkisah tentang ekspansi para misionaris Kristen ke pedalaman Afrika. Kalau ada yang tertarik membaca, silakan cari di toko buku terdekat atau pinjam punya saya. ^^

“…Seorang lelaki yang mengundang sanak saudaranya ke pesta tidak melakukannya untuk menyelamatkan mereka dari kelaparan. Mereka semua punya makanan di rumah masing-masing. Ketika kita berkumpul bersama di tengah tanah desa yang diterangi sinar bulan, itu bukan karena bulan. Setiap orang bisa melihat bulan di pekarangannya sendiri. Kita berkumpul bersama karena adalah baik bagi sanak keluarga untuk melakukannya. ..(skip). “..aku hanya punya sedikit waktu untuk hidup dan begitu juga Uchendu, Unachukwu, dan Emefo. Namun aku mengkhawatirkan kalian orang-orang muda karena kalian tidak mengerti betapa kuat ikatan kekeluargaan ini. Kalian tidak tahu apa artinya bicara dengan satu suara. ..(skip). Dia menoleh lagi ke arah Okonkwo dan berkata, “Terima kasih karena mengumpulkan kita semua.”

Kita tidak berdoa untuk memiliki lebih banyak uang tetapi untuk memiliki lebih banyak saudara. Kita lebih baik dibanding binatang karena kita memiliki saudara. Binatang menggosokkan punggungnya yang gatal ke sebatang pohon, manusia meminta saudaranya untuk menggaruk.



Yang benar datangnya dari Allah, yang salah semata kekurangan saya.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Antara OASIS dan Biosis

Rasanya mencari hubungan antara OASIS dengan Biosis adalah sama halnya seperti mencari hubungan antara asetilkolinastre dengan asteraceae, atau mencari hubungan kekerabatan antara cicak dengan becak. Seperti tidak ada hubungan padahal sebenarnya kalau disambung-sambungin dengan memaksa, ya ada juga kaitannya.

OASIS adalah rangkaian pembinaan keislaman untuk kader muda Gamais, yang secara tidak langsung merupakan sarana pembinaan juga bagi para panitianya. Adapun biosis (biosistematika) merupakan mata kuliah (pembinaan keilmuan) untuk para mahasiswa biologi tingkat II (atau tingkat III) yang juga menjadi wadah pembinaan untuk para asistennya.

OASIS, sesuai dengan namanya (Olah Ukhuwah Keluarga Mahasiswa Islam) memang tali yang dirancang untuk mengeratkan ikatan ukhuwah para kader Gamais. Biosis adalah mata kuliah yang bisa mewujudkan kekompakan satu angkatan dan memperkuat suasana kerja sama tim. Soalnya dalam praktikum memang dibagi menjadi kelompok kecil beranggotakan rata-rata lima orang yang harus bekerja dalam satu meja selama satu semester.

OASIS adalah proyek besar yang harus dijalankan sesempurna mungkin. Proyek “Unta Merah” gitu loh. Biosis juga merupakan tugas besar dalam semester ini yang mesti diselesaikan sebaik mungkin, mengingat porsi sks yang cukup besar yaitu 4 sks.

Puncak pembinaan OASIS adalah pelantikan Kader Muda sedangkan puncak praktikum biosis adalah kuliah lapangan besar. Keduanya sama-sama dilaksanakan di luar kampus dengan begitu banyak hal yang harus dipersiapkan. Terus pas akhirnya, harus bikin laporan deh -_-

Untuk menjalankan program OASIS, ide saja tidak cukup. Ukhuwah dan ruhiyah panitia mutlak penting. Pun dalam menikmati biosis, ide dan konsep yang dipelajari di kelas tidaklah cukup. Ukhuwah perlu, kalau ruhiyah sih memang diperlukan dalam setiap pekerjaan. Tugas kelompok bisa-bisa tidak selesai kalau koordinasi berantakan.
Baik di OASIS maupun biosis, sama-sama diperlukan profesionalitas. Masing-masing anggota tim harus menyelesaikan tugasnya dengan baik, kecuali ada pengalihan tugas yang dilaksanakan secara jelas.

Di OASIS, kita mendapatkan banyak hikmah dari rangkaian acara. Dari biosis juga bisa didapat banyak hikmah kalau jeli, terutama pembelajaran dari alam. Di OASIS kita mendapat banyak adik dan kakak, pun di biosis kita mendapat banyak kakak dan ibu bapak (asisten dan dosen maksudnya).

Kesimpulannya adalah OASIS maupun biosis, amanah di organisasi ataupun amanah kuliah, sama-sama bernilai da’wah. Jadikan keduanya melesat bersama-sama, tidak ada yang tertinggal atau ditinggalkan. Jadikan keduanya saling mendukung, menjadi dua kaki yang saling mengokohkan, bukan menjatuhkan.

Jika para mujahid ITB adalah orang-orang yang mampu bersinar baik di Ganesha 7 maupun di Ganesha 10, tidak hanya cakap di Koridor timur tapi juga berjaya di GKU timur. Ini bukan tuntutan kok (tapi paksaan. Lho??) melainkan amunisi biar selalu semangat. …Karena semua kader dikaruniai kemampuan yang brilian! Percaya deh!

Biarpun IP bukan segalanya, tapi segalanya mungkin berawal dari IP. Sepakat?
So, berapa target IPK semester ini?????

Sukabumi, 16 Januari 2010

Bams dan Bunga

Oleh-oleh dari Institut Pertanian Bogor, 28 Februari 2010

Ini benda terkonyol yang berada di kamar saya!
Tapi jangan salah, benda ini lebih ampuhhh-puh-puh daripada sekantong seblak dalam meredakan emosi jiwa (naon sih!).

Silakan tekan tombol ‘on’ dan nikmati pertunjukan konyol abad ini; boneka bunga yang bisa berjoget seiring nyanyian music. Aiaiaiai…aiaiaiai..
Lucu, lucu, parah!!

Nisfatin Mahardini saja sampai tertawa terguling-guling. Terus ketawa, teruuuuus aja ketawa, terus deh ketawa…

Ilang deh stressnya.
Ilang deh cap capeknya.
Lupa deh jenuhnya.
Lupa deh betenya.
Lupa juga tugas presentasinya.
Yaaah, ini mah udah jadi rumus. Dini atau Lintang tuh nginep di kosan cuma pindah tidur.

Satu lagi piaraan saya! Horta bernama “Bams”. Plis nggak usah ada yang ngomen tentang nama ini!

Makhluk jenis apakah itu?
Makhluk yang kepalanya terbuat dari serutan kayu, berbaju daerah dengan motif batik, yang ditempatkan dalam kotak kardus dengan bagian depan transparan, dengan secarik kertas terselip di dalamnya.

How to Grow; ceritanya ini boneka yang bisa tumbuh rambut. Di atas kepalanya terdapat benih-benih rerumputan yang jika disiram akan tumbuh. Kek rambut dicat ijo gitu lah.

Jadi ada dua pilihan; membiarkan Bams tetap botak atau menumbuhkan rambutnya.
Sempat memilih Bams tetap botak sih, soalnya khawatir jadi busuk kalau kepalanya disiram air. Tapi rasa ingin tahu mendorongku mengambil risiko.

Hari kedua setelah Bams tiba di Bandung, bulat tekad saya untuk merendam kepalanya dalam air. Hmm.. pake konsep perkecambahan tumbuhan ni!!
Menurut kertas petunjuk, rambut Bams akan tumbuh setelah sekitar seminggu.


Hari itu saya pulang dengan perasaan hampa. Siang tadi sakit hati saya tersandung dua ujian. Saat masuk kamar, mata ini berbinar kembali saat melihat Bams.. SUDAH TUMBUH RAMBUT!!! Yeyeyeyeyeye.. cepat sekali, padahal baru hari ketiga setelah imbibisi. Rambutnya lencang depan gitu deh, eh lencang atas ding! Panjangnya setengah senti-an lah.

Keesokan harinya, rambut Bams semakin tinggi. Lucu. Hehe..

Dan hari ini, rambut Bams telah mencapai lima senti-an tingginya! Berhubung dia kepalanya kanan dan fitrahnya si rumput jenis “itu” tumbuh tegak lurus menuju langit, kalau kepala Bams ditegakkan rambut-rambutnya malah miring ke kiri. Mau menyerupai poni lempar namun tidak sempurna. Saat kepala Bams miring ke kiri, rumputnya tumbuh miring kanan. Ya udah deh, suka-suka kalian!



Saya tidak tahu kapan rumput-rumput itu akan mati. Mungkin lima bulan lagi, mungkin seminggu lagi, mungkin besok, atau mungkin juga setelah saya selesai menulis cerita ini.


Biarin, biarin saja kalau Bams nanti botak lagi. Toh awalnya juga dia botak. Jadi apa bedanya botak dia dulu dan botak dia nanti, sama-sama botak kan?











***************************
Nggak usah ada rasa kehilangan..
Toh dulu "ITU" nggak ada

Apa bedanya "ITU" dulu nggak ada sama sekarang "ITU" nggak