09 Januari 2010 jam 6:42 | Sunting Catatan | Hapus
Diunggah melalui Facebook Seluler
Raport Semester 1
Nama : Risha Amilia Pratiwi
NIM : 10608069
Mata Kuliah Indeks Nilai
Genetika : *
PITH : *
Proyek Anatomi dan Fisiologi Hewan : *
Anatomi dan Fisiologi Hewan : *
Biosistematika : *
Kimia Organik : *
Agama dan Etika Islam : *
IPK : ****
Catatan untuk mahasiswa :
Katamu Allah nomor 1!
kok adzan sudah terdengar malah masih asyik ngetik teori dasar
Katamu Allah nomor 1!
kok tilawah jadi setengah padahal Martini dilahap sampai mau muntah
Katamu Allah nomor 1!
kok begadang sampai pagi tapi tahajud tak dijalani
Katamu Allah nomor 1!
kok Drosophila dipiara tapi kabar saudara tidak ditanya
Katamu Allah nomor 1!
kok Thespesia populnea dihapal tapi Qur'an malah ditinggal
Katamu Allah nomor 1!
kok Kromatografi Lapis Tipis dianalisis tapi problematika ummat tak digubris
Rabu, 19 Mei 2010
Halo, Bisa Bicara dengan Pedra??
10 Januari 2010 jam 19:45
Bismillahirrahmaanirrahiim
Sebuah karya lagi, pertanda aku ada
Halo, Bisa Bicara dengan Pedra??
Sesekali waktu, sempatkanlah Anda duduk-duduk di koridor timur Masjid Salman Institut Teknologi Bandung. Seperti yang sedang kami lakukan saat ini, Rabu 6 Januari 2010. Ya, tiga orang mahasiswi yang sedang berjuang mengubah nasib, mengais A untuk Mata Kuliah Anatomi Fisiologi Hewan dan Genetika.
Bukan bahan ujian yang sedikit, Kawan! Ini adalah UAS, Ujian Agak Serius, bukan UTS, Ujian Tidak Serius (tolong jangan dicontoh). Jadi sedikit wajar kalau kami sudah menekuni buku-buku setebal, ya kira-kira 5 cm lah, dari pagi sampai sesiang ini. Cuma sayangnya, dari pukul 10 pagi sampai kira-kira pukul 15, kami baru bisa menyelesaikan beberapa halaman saja. Biasalah, ketika ada lebih dari dua orang wanita berkumpul dalam suatu forum belajar bersama, dapat dibayangkan kelanjutan ceritanya. Mulai dari membicarakan mencit-mencit sampai.. sampai.. sampai apa ya waktu itu? Hmm, cem-cem KP-lah, kurang penting makanya saya lupa :-D
Baik, tibalah cerita kita pada kedatangan tokoh utama.
Ba’da syuro laskar acara DP2Q, saya kembali ke barisan para wanita yang sedang mencoba berpikir selayaknya seorang Morgan menemukan teori-teori rekombinasi dan pautan genetik.
Anak laki-laki itu (sebenarnya sudah bukan anak-anak sih) datang dan menyodorkan kue-kue dagangan dengan harga tidak kira-kira. Dari perawakan nampaknya ia berusia sekitar 18 tahun, tapi karena cara bicaranya yang “manja” kami jadi memanggilnya “Dek”.
Sebenarnya ini pertemuanku dengannya untuk kedua kali. Dulu pernah, Adek itu datang dan menyodorkan dagangan dengan harga selangit juga (ah, lebay). Ia mengaku dari sebuah SLB di Jakarta (tanpa menyebut merek) dan ternyata dia nonis. Dia bilang mau pulang tapi tidak punya ongkos. Aih, ternyata sekarang harus berurusan kembali dengannya…
Seorang teman akhirnya membeli sebuah donat, berwarna pink dan terbungkus plastik yang sudah lecek. Eeh, Si Adek masih nggak mau pergi. Malah jadi mengajak kami ngobrol. Lalu ketika ada handphone saya yang tergeletak, ia meminta izin untuk menelepon temannya. Saya malah iya-iya aja. Lagipula ada bonus pulsa sih di handphone CDMA itu. Jadi kapan kamu mau pergi, Dek??????????????????????
Hebat, Si Adek menelepon layaknya itu handphone milik sendiri. Lama dan tidak penting (mungkin bagi dia penting sih). Kami pura-pura tidak peduli meskipun dalam hati berteriak, “seseoraaaaang, singkirkan dia dari siniiiiii”.
Datanglah Ibu Idar, ibu manajer mukena, dari arah belakang si adek. Beliau bertanya tanpa suara, kira-kira beginilah, “siapa itu?”. Dengan isyarat, saya bilang tidak tahu dan minta bantuan. Sampai kemudian datang pak satpam mengajak si adek pergi. Si adek mau nangis gitu sambil merengek-rengek, “aaah, saya kan jualan. Masa ngga boleh.. kan hujan, aaahhh…” Cup-cup-cup.
Ya, selesai sudah urusan yang satu itu. Kami membuka kembali lembar-lembar karya tulis Hartwell berjudul Genetics, from Genes to Genomes. Tentunya masih sambil ngobrol. Mengalirlah cerita-cerita itu...(ini fakta, dan telah terjadi di sekitar kita). Mulai dari ibu yang membawa anak laki-laki, yang bertanya-tanya tentang murtad. Pada akhirnya dia akan bilang bahwa dia dipaksa murtad karena telah meminjam uang sebanyak sekian. Lalu orang-orang yang mendengarnya akan berempati dan memberi uang. Atau tentang orang yang, katanya sih mau jalan kaki dari Gelap Nyawang ke Jatinangor karena kehabisan ongkos. Lalu tentang bapak-bapak yang meminta uang karena dompetnya hilang, lalu pas mau diantar ke Rumah Amal malah marah-marah. Juga tentang ibu pengemis yang memaki-maki karena tidak dikasih uang. Atau tentang anak berseragam SMA yang pura-pura kehilangan tas di Salman.
Hening beberapa saat. Handphone CDMA saya terbahak-bahak (berdering maksudnya), ooh ada panggilan masuk. Suara hati saya mengatakan bahwa penelepon adalah orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan si Adek. Teman yang tadi ditelepon mungkin. Soalnya nomor handphone CDMA ini memang tidak diketahui banyak orang.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam, bisa bicara dengan Pedra?”
“Hm..??”
“Yang menelepon tadi lho, Mbak.”
“Oh, ini siapa?”
“Saya ibu gurunya, Pedra ada? Tadi dia menelepon temannya di sekolah”
“Wah, Pedra sudah pergi tuh. Saya nggak tahu perginya ke mana.”
“Hmm, kalau boleh tahu ini Mbak ketemu Pedra di mana ya?”
“Di ITB, Bu. Di Masjid Salman.”
“Hah, di Bandung??? Terus selama ini Pedra tinggal sama Mbak?”
“Haeh?! Enggak lah. Saya baru ketemu dia dua kali di sini”.
“Itu anak pergi sejak lebaran dan belum pulang-pulang”
“Gitu ya? Tapi… dia sehat, Bu?”
“Yaa, secara fisik sehat tapi kalau bicara agak melantur sih. Berarti dia masih di Bandung ternyata. Sudah ya, Mbak. Terima kasih. Wassalamu’alaikum”
********************************************************************
Baik, lupakan Pedra, nggak akan keluar di ujian soalnya. Tapi bagaimanapun, masih kepikiran juga sih. Bagaimana seorang Pedra bisa pergi dari sekolah dan terdampar di Bandung, lalu ibu guru dan orangtuanya mungkin panik mencari-cari.
Belum lagi bayangan Pedra pergi, dari arah utara berjalan sesosok mas-mas. Hemm, keknya kenal dan naga-naganya..
Tuh kan benar, mas-mas itu mendekati sekelompok akhwat dan berjongkok di dekatnya. Saya amati dia dari awal kedatangan sampai ketika diberi selembar uang. Belum cukup bagi dia uang Rp5000 rupanya, dia datang dan berjongkok di hadapan kelompok belajar kami. Sama, intinya sih minta uang. Halahh, lu pikir orangtua kite-kite punya pohon duit? Kerja dooooong, badan segar bugar juga. Bagaimanapun, kami tidak merasa harus memberi uang pada dia. Akhirnya mas-mas itu pergi setelah kami beri pisang (iya gitu, dikasih pisang?).
FOKUS ADA PADAKU. Begitu kata buku. Kali ini hening soalnya masing-masing sedang merenung : Ckckck… ini hari apa yak kok dapat jackpot cem begini.
Hari semakin senja, hujan telah terhenti namun tetap saja cuaca dingin sangat. Kami masih duduk di kortim ketika seorang akhwat berperawakan S2 datang.
“Assalamu’alaikum, Mbak. Mau nanya, kalau mau ikut halaqah di Salman gimana ya? Saya S2 di Unpad, baru datang dari Sumatera. Makanya lagi nyari halaqah, pengennya sih di Salman,” ujar Mbak itu.
“Wa’alaikumussalam. Halaqah?” Hemm, saya mikir dulu. Halaqah yang mana nih, apa halaqah Qur an Mata’, ya bukan lah. Masa iya menghubungi BKM Gamais, kan bukan mahasiswa ITB. Setelah ditanyakan kepada seorang teteh dan teteh tersebut memberikan nomor handphone seorang teteh yang akan menyambungkan si teteh (eh mbak) itu dengan KARIM Salman, Mbak itu pun pergi.
Kami yang tinggal berdua berpandangan, dan tersenyum bersamaan. Sepertinya kami sedang memikirkan hal yang sama…
Hari semakin senja.
Jadi apa kesimpulan belajar hari ini?
Gen-gen yang terletak pada kromosom yang berbeda akan disegregasikan secara independen tetapi gen-gen yang terletak pada jarak yang relatif dekat akan terpaut dan diwariskan bersama-sama kepada filialnya.
Kalau mau belajar kelompok, buatlah perjanjian untuk tidak membicarakan hal lain selain materi ujian. Dan jangan lupa siapkan banyak cemilan :-D
Duduk-duduklah engkau di kortim Salman, niscaya dengan izin Allah engkau akan bertemu Pedra, mas-mas yang minta uang, mbak yang bertanya tentang halaqah.
Terkadang, tidak perlu sesuatu yang besar untuk kita bisa menarik pelajaran darinya. Kalau kita merasa tidak ada hikmah dari peristiwa itu, ya dicari sampai dapat hikmahnya :-p
Jangan takut pada orang asing, kecuali orang itu bertangan empat dan bergigi sepanjang ikan layur yang ditemukan di Tempat Pelelangan Ikan Pangandaran saat kuliah lapangan biosistematika (naoooon siiiih!!!).
********************************************************************
Tulisan ini disusun tanggal 9 Januari 2009, sehari ba’da UAS Genetika dan Anatomi Fisiologi Hewan yang tabu untuk diperbincangkan lagi, dan Alhamdulillah dipublikasi hari ini 10 Januari 2010. Dan saya baru sadar, saya salah saat tanggal 6 Januari itu merasa tidak mendapat pembelajaran apa-apa, padahal ada hal yang sangat penting yang kami dapat.. yaitu mendapatkan tiga kesempatan shalat tepat waktu dan berjama’ah… harta berharga yang mungkin tidak akan didapatkan jika belajar di tempat lain. Wallahu ‘alam.
Bismillahirrahmaanirrahiim
Sebuah karya lagi, pertanda aku ada
Halo, Bisa Bicara dengan Pedra??
Sesekali waktu, sempatkanlah Anda duduk-duduk di koridor timur Masjid Salman Institut Teknologi Bandung. Seperti yang sedang kami lakukan saat ini, Rabu 6 Januari 2010. Ya, tiga orang mahasiswi yang sedang berjuang mengubah nasib, mengais A untuk Mata Kuliah Anatomi Fisiologi Hewan dan Genetika.
Bukan bahan ujian yang sedikit, Kawan! Ini adalah UAS, Ujian Agak Serius, bukan UTS, Ujian Tidak Serius (tolong jangan dicontoh). Jadi sedikit wajar kalau kami sudah menekuni buku-buku setebal, ya kira-kira 5 cm lah, dari pagi sampai sesiang ini. Cuma sayangnya, dari pukul 10 pagi sampai kira-kira pukul 15, kami baru bisa menyelesaikan beberapa halaman saja. Biasalah, ketika ada lebih dari dua orang wanita berkumpul dalam suatu forum belajar bersama, dapat dibayangkan kelanjutan ceritanya. Mulai dari membicarakan mencit-mencit sampai.. sampai.. sampai apa ya waktu itu? Hmm, cem-cem KP-lah, kurang penting makanya saya lupa :-D
Baik, tibalah cerita kita pada kedatangan tokoh utama.
Ba’da syuro laskar acara DP2Q, saya kembali ke barisan para wanita yang sedang mencoba berpikir selayaknya seorang Morgan menemukan teori-teori rekombinasi dan pautan genetik.
Anak laki-laki itu (sebenarnya sudah bukan anak-anak sih) datang dan menyodorkan kue-kue dagangan dengan harga tidak kira-kira. Dari perawakan nampaknya ia berusia sekitar 18 tahun, tapi karena cara bicaranya yang “manja” kami jadi memanggilnya “Dek”.
Sebenarnya ini pertemuanku dengannya untuk kedua kali. Dulu pernah, Adek itu datang dan menyodorkan dagangan dengan harga selangit juga (ah, lebay). Ia mengaku dari sebuah SLB di Jakarta (tanpa menyebut merek) dan ternyata dia nonis. Dia bilang mau pulang tapi tidak punya ongkos. Aih, ternyata sekarang harus berurusan kembali dengannya…
Seorang teman akhirnya membeli sebuah donat, berwarna pink dan terbungkus plastik yang sudah lecek. Eeh, Si Adek masih nggak mau pergi. Malah jadi mengajak kami ngobrol. Lalu ketika ada handphone saya yang tergeletak, ia meminta izin untuk menelepon temannya. Saya malah iya-iya aja. Lagipula ada bonus pulsa sih di handphone CDMA itu. Jadi kapan kamu mau pergi, Dek??????????????????????
Hebat, Si Adek menelepon layaknya itu handphone milik sendiri. Lama dan tidak penting (mungkin bagi dia penting sih). Kami pura-pura tidak peduli meskipun dalam hati berteriak, “seseoraaaaang, singkirkan dia dari siniiiiii”.
Datanglah Ibu Idar, ibu manajer mukena, dari arah belakang si adek. Beliau bertanya tanpa suara, kira-kira beginilah, “siapa itu?”. Dengan isyarat, saya bilang tidak tahu dan minta bantuan. Sampai kemudian datang pak satpam mengajak si adek pergi. Si adek mau nangis gitu sambil merengek-rengek, “aaah, saya kan jualan. Masa ngga boleh.. kan hujan, aaahhh…” Cup-cup-cup.
Ya, selesai sudah urusan yang satu itu. Kami membuka kembali lembar-lembar karya tulis Hartwell berjudul Genetics, from Genes to Genomes. Tentunya masih sambil ngobrol. Mengalirlah cerita-cerita itu...(ini fakta, dan telah terjadi di sekitar kita). Mulai dari ibu yang membawa anak laki-laki, yang bertanya-tanya tentang murtad. Pada akhirnya dia akan bilang bahwa dia dipaksa murtad karena telah meminjam uang sebanyak sekian. Lalu orang-orang yang mendengarnya akan berempati dan memberi uang. Atau tentang orang yang, katanya sih mau jalan kaki dari Gelap Nyawang ke Jatinangor karena kehabisan ongkos. Lalu tentang bapak-bapak yang meminta uang karena dompetnya hilang, lalu pas mau diantar ke Rumah Amal malah marah-marah. Juga tentang ibu pengemis yang memaki-maki karena tidak dikasih uang. Atau tentang anak berseragam SMA yang pura-pura kehilangan tas di Salman.
Hening beberapa saat. Handphone CDMA saya terbahak-bahak (berdering maksudnya), ooh ada panggilan masuk. Suara hati saya mengatakan bahwa penelepon adalah orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan si Adek. Teman yang tadi ditelepon mungkin. Soalnya nomor handphone CDMA ini memang tidak diketahui banyak orang.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam, bisa bicara dengan Pedra?”
“Hm..??”
“Yang menelepon tadi lho, Mbak.”
“Oh, ini siapa?”
“Saya ibu gurunya, Pedra ada? Tadi dia menelepon temannya di sekolah”
“Wah, Pedra sudah pergi tuh. Saya nggak tahu perginya ke mana.”
“Hmm, kalau boleh tahu ini Mbak ketemu Pedra di mana ya?”
“Di ITB, Bu. Di Masjid Salman.”
“Hah, di Bandung??? Terus selama ini Pedra tinggal sama Mbak?”
“Haeh?! Enggak lah. Saya baru ketemu dia dua kali di sini”.
“Itu anak pergi sejak lebaran dan belum pulang-pulang”
“Gitu ya? Tapi… dia sehat, Bu?”
“Yaa, secara fisik sehat tapi kalau bicara agak melantur sih. Berarti dia masih di Bandung ternyata. Sudah ya, Mbak. Terima kasih. Wassalamu’alaikum”
********************************************************************
Baik, lupakan Pedra, nggak akan keluar di ujian soalnya. Tapi bagaimanapun, masih kepikiran juga sih. Bagaimana seorang Pedra bisa pergi dari sekolah dan terdampar di Bandung, lalu ibu guru dan orangtuanya mungkin panik mencari-cari.
Belum lagi bayangan Pedra pergi, dari arah utara berjalan sesosok mas-mas. Hemm, keknya kenal dan naga-naganya..
Tuh kan benar, mas-mas itu mendekati sekelompok akhwat dan berjongkok di dekatnya. Saya amati dia dari awal kedatangan sampai ketika diberi selembar uang. Belum cukup bagi dia uang Rp5000 rupanya, dia datang dan berjongkok di hadapan kelompok belajar kami. Sama, intinya sih minta uang. Halahh, lu pikir orangtua kite-kite punya pohon duit? Kerja dooooong, badan segar bugar juga. Bagaimanapun, kami tidak merasa harus memberi uang pada dia. Akhirnya mas-mas itu pergi setelah kami beri pisang (iya gitu, dikasih pisang?).
FOKUS ADA PADAKU. Begitu kata buku. Kali ini hening soalnya masing-masing sedang merenung : Ckckck… ini hari apa yak kok dapat jackpot cem begini.
Hari semakin senja, hujan telah terhenti namun tetap saja cuaca dingin sangat. Kami masih duduk di kortim ketika seorang akhwat berperawakan S2 datang.
“Assalamu’alaikum, Mbak. Mau nanya, kalau mau ikut halaqah di Salman gimana ya? Saya S2 di Unpad, baru datang dari Sumatera. Makanya lagi nyari halaqah, pengennya sih di Salman,” ujar Mbak itu.
“Wa’alaikumussalam. Halaqah?” Hemm, saya mikir dulu. Halaqah yang mana nih, apa halaqah Qur an Mata’, ya bukan lah. Masa iya menghubungi BKM Gamais, kan bukan mahasiswa ITB. Setelah ditanyakan kepada seorang teteh dan teteh tersebut memberikan nomor handphone seorang teteh yang akan menyambungkan si teteh (eh mbak) itu dengan KARIM Salman, Mbak itu pun pergi.
Kami yang tinggal berdua berpandangan, dan tersenyum bersamaan. Sepertinya kami sedang memikirkan hal yang sama…
Hari semakin senja.
Jadi apa kesimpulan belajar hari ini?
Gen-gen yang terletak pada kromosom yang berbeda akan disegregasikan secara independen tetapi gen-gen yang terletak pada jarak yang relatif dekat akan terpaut dan diwariskan bersama-sama kepada filialnya.
Kalau mau belajar kelompok, buatlah perjanjian untuk tidak membicarakan hal lain selain materi ujian. Dan jangan lupa siapkan banyak cemilan :-D
Duduk-duduklah engkau di kortim Salman, niscaya dengan izin Allah engkau akan bertemu Pedra, mas-mas yang minta uang, mbak yang bertanya tentang halaqah.
Terkadang, tidak perlu sesuatu yang besar untuk kita bisa menarik pelajaran darinya. Kalau kita merasa tidak ada hikmah dari peristiwa itu, ya dicari sampai dapat hikmahnya :-p
Jangan takut pada orang asing, kecuali orang itu bertangan empat dan bergigi sepanjang ikan layur yang ditemukan di Tempat Pelelangan Ikan Pangandaran saat kuliah lapangan biosistematika (naoooon siiiih!!!).
********************************************************************
Tulisan ini disusun tanggal 9 Januari 2009, sehari ba’da UAS Genetika dan Anatomi Fisiologi Hewan yang tabu untuk diperbincangkan lagi, dan Alhamdulillah dipublikasi hari ini 10 Januari 2010. Dan saya baru sadar, saya salah saat tanggal 6 Januari itu merasa tidak mendapat pembelajaran apa-apa, padahal ada hal yang sangat penting yang kami dapat.. yaitu mendapatkan tiga kesempatan shalat tepat waktu dan berjama’ah… harta berharga yang mungkin tidak akan didapatkan jika belajar di tempat lain. Wallahu ‘alam.
Ada Ide Nabrak-nabrak Pengen Ditulis
18 Januari 2010 jam 11:04
Puisi I
(Untuk saudara-saudaraku, mari upayakan pembinaan terbaik untuk adik-adik kita ^^)
Aku ada beberapa untuk mereka,
Potongan sapa yang boleh dirangkai jadi manik kaca
Juga ada beberapa warna-warni tawa
Yang boleh dipilin jadi tali sutra
Tolong kamu sempurnakan liontinnya
Boleh dari do’a ataupun canda
Nanti kita hadiahkan bersama-sama
Puisi II
(Terinsiprasi dari kuliah lapangan biosistematika di tujuh ekosistem Pangandaran)
Setelah cukup panjang menelisik padang lalang
Dan menyisihkan jejak karang
Aku hanya sedikit paham tentang estuari di hadapan kita
Kesamaan macam apa yang perlu kita upayakan
Agar kita tetap dua arus namun satu rasa
Puisi III
(Muhasabah semester tiga)
Bagaimana dengan jelaga yang menggigiti hati
Setelah koyak sebelah langkah
masih lengah juga melenggang di luar gelanggang
Meski telah patah bahkan belum sempat diasah
Tak akan menyerah walau lemah
Tuhan…aku tak ingin rugi
dalam perdagangan ini
Puisi IV
(Untuk saudara-saudariku yang milad)
Tiupan lilin keberapa yang kau perlukan
Untuk membawamu pada kesadaran
Ada ujung dari setiap awal
Puisi I
(Untuk saudara-saudaraku, mari upayakan pembinaan terbaik untuk adik-adik kita ^^)
Aku ada beberapa untuk mereka,
Potongan sapa yang boleh dirangkai jadi manik kaca
Juga ada beberapa warna-warni tawa
Yang boleh dipilin jadi tali sutra
Tolong kamu sempurnakan liontinnya
Boleh dari do’a ataupun canda
Nanti kita hadiahkan bersama-sama
Puisi II
(Terinsiprasi dari kuliah lapangan biosistematika di tujuh ekosistem Pangandaran)
Setelah cukup panjang menelisik padang lalang
Dan menyisihkan jejak karang
Aku hanya sedikit paham tentang estuari di hadapan kita
Kesamaan macam apa yang perlu kita upayakan
Agar kita tetap dua arus namun satu rasa
Puisi III
(Muhasabah semester tiga)
Bagaimana dengan jelaga yang menggigiti hati
Setelah koyak sebelah langkah
masih lengah juga melenggang di luar gelanggang
Meski telah patah bahkan belum sempat diasah
Tak akan menyerah walau lemah
Tuhan…aku tak ingin rugi
dalam perdagangan ini
Puisi IV
(Untuk saudara-saudariku yang milad)
Tiupan lilin keberapa yang kau perlukan
Untuk membawamu pada kesadaran
Ada ujung dari setiap awal
Koloni Koridor; 2008 Prajurit di Koridor Timur
Bismillaahirrahmaanirrahim...
16 Februari 2010
Sore itu, wajah langit sedikit murung. Mendung. Tapi tidak di sini. Di sini, cahaya terang benderang menyinari dua kubu yang tengah siap siaga. Sang Panglima Biru berkuda putih, tegak di antara dua kubu. Dua puluh ribu pasukan gagah berani, fokus mendengarkan arahan Sang Panglima.
Tentara-tentara bersorban tampak sigap dengan busur panah di tangan masing-masing. Oh, tak hanya mereka! Di kubu sebelah, ada rangers kuning dan rangers pink yang ikut andil memanaskan suasana, mengobarkan semangat jihad para pejuang!
Kalian salah jika menganggap kedua kubu tersebut hendak saling memerangi! Salah besar! Kedua kubu tersebut adalah pasukan yang satu. Jika mereka berjajar dalam barisan terpisah, itu memang satu di antara strategi perang mereka.
Sang Panglima turun dari kuda putihnya, lalu duduk bersila diikuti semua jundinya. Sejauh mata memandang, koridor ini dikuasai oleh laskar mereka. Penuh, penuh sekali. Mereka dalam barisan yang kokoh, dalam jalinan yang rapi, dalam mata sepintal tasbih yang berpangkal namun tiada akhir.
Segalanya diawali dengan gema Asma Allah. Lalu semua jundi terdiam takzim menyimak penjelasan mengenai....
HARI GIZI dan GAMAIS SUPERCAMP
Yap, pasukan itu adalah pasukan kita! Pasukan 2008 yang tadi sore telah memenuhi koridor timur Masjid Salman Institut Teknologi Bandung. Seperti dulu waktu zaman KIT, zaman ketika pasukan kita menginvasi selasar PLN, sampai penuh seperti mahasiswa-mahasiswa yang sedang osjur.
Percaya tidak percaya, rasanya jarkom yang saya forward ke beberapa akhwat tadi malam itu "hanyalah" jarkom biasa. Yaa seperti jarkom biasa yang dikirim ke para anggota Keluarga Muslim 2008, yang sedikit mengecilkan harapan akan berkumpulnya kader 2008 dalam suatu forum besar. Namun yang tadi itu, wah subhanallah.. bahkan Boss Ganteng a.k.a Dita rela meninggalkan kerajaannya untuk datang ke sini. Bukan jarkomnya yang sakti, melainkan Allah yang telah menggerakkan langkah-langkah kita menuju syuro' ini.
"...maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara..." (Q.S. 3 : 103)
"...Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.S. 8 : 63)
Ingatkah kawan, kapan terakhir kita kumpul besar begini???
“…Seorang lelaki yang mengundang sanak saudaranya ke pesta tidak melakukannya untuk menyelamatkan mereka dari kelaparan. Mereka semua punya makanan di rumah masing-masing. Ketika kita berkumpul bersama di tengah tanah desa yang diterangi sinar bulan, itu bukan karena bulan. Setiap orang bisa melihat bulan di pekarangannya sendiri. Kita berkumpul bersama karena adalah baik bagi sanak keluarga untuk melakukannya. .."
“..aku hanya punya sedikit waktu untuk hidup. Namun aku mengkhawatirkan kalian orang-orang muda karena kalian tidak mengerti betapa kuat ikatan kekeluargaan ini. Kalian tidak tahu apa artinya bicara dengan satu suara.... Terima kasih karena mengumpulkan kita semua.”
Kita tidak berdoa untuk memiliki lebih banyak uang tetapi untuk memiliki lebih banyak saudara. Kita lebih baik dibanding binatang karena kita memiliki saudara. Binatang menggosokkan punggungnya yang gatal ke sebatang pohon, manusia meminta saudaranya untuk menggaruk.
-“Things Fall Apart” Chinua Achebe-
Tuh kan asik ngumpul-ngumpul kek begini!
Jadi, sering-sering aja yaaa
Keluarga Muslim 2008
BERSIAPLAH!!!
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (Q.S. 9 : 111).
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. 61 : 4)
wallahu a'lam
16 Februari 2010
Sore itu, wajah langit sedikit murung. Mendung. Tapi tidak di sini. Di sini, cahaya terang benderang menyinari dua kubu yang tengah siap siaga. Sang Panglima Biru berkuda putih, tegak di antara dua kubu. Dua puluh ribu pasukan gagah berani, fokus mendengarkan arahan Sang Panglima.
Tentara-tentara bersorban tampak sigap dengan busur panah di tangan masing-masing. Oh, tak hanya mereka! Di kubu sebelah, ada rangers kuning dan rangers pink yang ikut andil memanaskan suasana, mengobarkan semangat jihad para pejuang!
Kalian salah jika menganggap kedua kubu tersebut hendak saling memerangi! Salah besar! Kedua kubu tersebut adalah pasukan yang satu. Jika mereka berjajar dalam barisan terpisah, itu memang satu di antara strategi perang mereka.
Sang Panglima turun dari kuda putihnya, lalu duduk bersila diikuti semua jundinya. Sejauh mata memandang, koridor ini dikuasai oleh laskar mereka. Penuh, penuh sekali. Mereka dalam barisan yang kokoh, dalam jalinan yang rapi, dalam mata sepintal tasbih yang berpangkal namun tiada akhir.
Segalanya diawali dengan gema Asma Allah. Lalu semua jundi terdiam takzim menyimak penjelasan mengenai....
HARI GIZI dan GAMAIS SUPERCAMP
Yap, pasukan itu adalah pasukan kita! Pasukan 2008 yang tadi sore telah memenuhi koridor timur Masjid Salman Institut Teknologi Bandung. Seperti dulu waktu zaman KIT, zaman ketika pasukan kita menginvasi selasar PLN, sampai penuh seperti mahasiswa-mahasiswa yang sedang osjur.
Percaya tidak percaya, rasanya jarkom yang saya forward ke beberapa akhwat tadi malam itu "hanyalah" jarkom biasa. Yaa seperti jarkom biasa yang dikirim ke para anggota Keluarga Muslim 2008, yang sedikit mengecilkan harapan akan berkumpulnya kader 2008 dalam suatu forum besar. Namun yang tadi itu, wah subhanallah.. bahkan Boss Ganteng a.k.a Dita rela meninggalkan kerajaannya untuk datang ke sini. Bukan jarkomnya yang sakti, melainkan Allah yang telah menggerakkan langkah-langkah kita menuju syuro' ini.
"...maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara..." (Q.S. 3 : 103)
"...Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.S. 8 : 63)
Ingatkah kawan, kapan terakhir kita kumpul besar begini???
“…Seorang lelaki yang mengundang sanak saudaranya ke pesta tidak melakukannya untuk menyelamatkan mereka dari kelaparan. Mereka semua punya makanan di rumah masing-masing. Ketika kita berkumpul bersama di tengah tanah desa yang diterangi sinar bulan, itu bukan karena bulan. Setiap orang bisa melihat bulan di pekarangannya sendiri. Kita berkumpul bersama karena adalah baik bagi sanak keluarga untuk melakukannya. .."
“..aku hanya punya sedikit waktu untuk hidup. Namun aku mengkhawatirkan kalian orang-orang muda karena kalian tidak mengerti betapa kuat ikatan kekeluargaan ini. Kalian tidak tahu apa artinya bicara dengan satu suara.... Terima kasih karena mengumpulkan kita semua.”
Kita tidak berdoa untuk memiliki lebih banyak uang tetapi untuk memiliki lebih banyak saudara. Kita lebih baik dibanding binatang karena kita memiliki saudara. Binatang menggosokkan punggungnya yang gatal ke sebatang pohon, manusia meminta saudaranya untuk menggaruk.
-“Things Fall Apart” Chinua Achebe-
Tuh kan asik ngumpul-ngumpul kek begini!
Jadi, sering-sering aja yaaa
Keluarga Muslim 2008
BERSIAPLAH!!!
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (Q.S. 9 : 111).
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. 61 : 4)
wallahu a'lam
Nyalon???
18 Februari 2010 jam 4:27
Perbincangan antara saya dan Bu Ajeng
17 Februari 2010
Saya : Ata udah bobo, Bu? Tumben nggak bunyi.
Ibu : Lagi main di rumah neneknya. Itu lho yang di persimpangan gang. di sini mah semuanya keluarga, Neng. Sepuluh bersaudara atuh!
Saya : Wow, saudara dari Ibu apa Bapak?
Ibu : Dari Bapak, Ibu mah di sini sebatang kara, Neng. Heuheuheu..
Saya : Ibu dari Jawa ya, Bu?
Ibu : Ibu lahir di Banten, besar di Jakarta. Pas udah nikah pindah ke Bandung sama Bapak.
Saya : Jadi Ajeng lahirnya di sini (Bandung-red) dong, Bu?
Ibu : Nggak, Neng. Ajeng lahirnya di Malang. Orangtua Ibu kan orang Malang. Kalau Angga lahirnya di Borromeus. Ata di Internasional (RS Internasional kali ya?). Angga mah anak kantor, Ata anak swasta.
Saya : Hmm.. maksudnya dibiayai kantor ya, Bu?
Ibu : Iya, dibiayai kantor Bapak.
Saya : emang Bapak kerja di mana, Bu?
Ibu : Ituuu, di PDAM
Saya : Atuh deket banget dong, Bu
Ibu : Iya, makanya Si Bapak mah pulang-pergi we, Neng. Makan siang pulang, terus balik lagi deh ngantor. Ah, di sana mah "kering", Neng! Bapak mah kan tukang gambar, yang terima pesenan gambar yang bisa nego mah (sampai di sini nggak mudheng).
Saya : Si Bapak dari Sipil ya, Bu?
Ibu : Iya, Si Bapak dari sipil. Ibu nih yang nggak nyambung mah, malah sekarang jadinya buka warung.
Saya : Oh, emang Ibu pendidikannya dari mana?
Ibu : Ibu mah dulu kursus kecantikan di Rudi Hadisuwarno sampai 3 tahun!
Saya : Woooow..
Ibu : Iya, dulu teh sampai ngambil.. ada lah sebelas jenis mah. Dari cutting sampai Beauty Class, yang sanggul sendiri, pasang kemben sendiri lho! Heuheuheu..
Saya : keren, Bu! Keren!
Ibu : dulu Ibu kan nggak tinggal sama orangtua, tapi sama kakak. soalnya usianya jauh, Neng! Jadi dibiayai kakak, terserah deh Ibu mau apa juga.
Saya : Oh, jadi Ibu anak kakak ya, Bu. Heuheuheu..
Ibu : Heuheuheu.. Ibu mah kalau mau ujian teh kayak pindah rumah aja. Bawa rak, bawa galon, bawa ah pokoknya lengkap-kap-kap deh.
Saya : Oh, gitu!!
Ibu : Iya, kan penilaiannya bukan cuma dari hasil (Like this, Bu!). posisi berdiri, sikap, pokoknya ribet lah
Saya : dilihat juga penataan peralatan ya, Bu.
Ibu : Ya iyalah, Neng. makanya kalau Ibu ke salon di sini suka bawel. Ada Neng, di salon yang sebelah sana (sebelah mana ya, Bu?) ada yang Ibu suka cara nyalonnya. David, meskipun cowok tapi cuttingnya oke. Pas di sini Ibu heran, kok kalau facial gerakannya cuma delapan kali padahal harusnya tiga puluh empat kali (ap-pppaaaa???)
Saya : Oooh.. (maaf Bu, tidak berminat. hehe). Terus kenapa Ibu nggak buka salon aja?
Ibu : Heuheuheu.. nggak tahu nih Ibu teh malah buka warung. Tapi dulu Ibu suka terima panggilan kalau ada yang mau facial. Tuh, Ibu itu pernah perawatan sama Ibu. Waktu itu dari jam dua siang sampai jam tujuh malam, Neng!!
Saya : wooooooow... Buka salon aja atuh, Bu! (maksa)
Ibu : Pengen sih, Neng. Ntar lah kalau rumah di RW 4 udah beres. Heuheuheu.. Pengennya buka salon buat muhrim aja (muhrim aja?? muslimah kali, Bu?)
Saya : Beneran nih, Bu??? Salon Muslimah?
Ibu : Iya, salon muslimah. Heuheuheu.. kan di sini banyak mahasiswi. mereka juga kan pengen dimanja-manja.
Saya : Bener banget, Bu. Temen-temen juga banyak yang nyari tuh.
Ibu : Doa'in ya, Neng. Heuheuheu..
Saya : Eh Bu, buka kursus kecantikan aja atuh sekalian!
Ibu : Hmm.. boleh sih kalau Neng mau (???), nggak usah beli alat-alat, udah ada kok di Ibu
Saya : Hmmm...boleh juga, Bu. heuheuheu...
Perbincangan antara saya dan Bu Ajeng
17 Februari 2010
Saya : Ata udah bobo, Bu? Tumben nggak bunyi.
Ibu : Lagi main di rumah neneknya. Itu lho yang di persimpangan gang. di sini mah semuanya keluarga, Neng. Sepuluh bersaudara atuh!
Saya : Wow, saudara dari Ibu apa Bapak?
Ibu : Dari Bapak, Ibu mah di sini sebatang kara, Neng. Heuheuheu..
Saya : Ibu dari Jawa ya, Bu?
Ibu : Ibu lahir di Banten, besar di Jakarta. Pas udah nikah pindah ke Bandung sama Bapak.
Saya : Jadi Ajeng lahirnya di sini (Bandung-red) dong, Bu?
Ibu : Nggak, Neng. Ajeng lahirnya di Malang. Orangtua Ibu kan orang Malang. Kalau Angga lahirnya di Borromeus. Ata di Internasional (RS Internasional kali ya?). Angga mah anak kantor, Ata anak swasta.
Saya : Hmm.. maksudnya dibiayai kantor ya, Bu?
Ibu : Iya, dibiayai kantor Bapak.
Saya : emang Bapak kerja di mana, Bu?
Ibu : Ituuu, di PDAM
Saya : Atuh deket banget dong, Bu
Ibu : Iya, makanya Si Bapak mah pulang-pergi we, Neng. Makan siang pulang, terus balik lagi deh ngantor. Ah, di sana mah "kering", Neng! Bapak mah kan tukang gambar, yang terima pesenan gambar yang bisa nego mah (sampai di sini nggak mudheng).
Saya : Si Bapak dari Sipil ya, Bu?
Ibu : Iya, Si Bapak dari sipil. Ibu nih yang nggak nyambung mah, malah sekarang jadinya buka warung.
Saya : Oh, emang Ibu pendidikannya dari mana?
Ibu : Ibu mah dulu kursus kecantikan di Rudi Hadisuwarno sampai 3 tahun!
Saya : Woooow..
Ibu : Iya, dulu teh sampai ngambil.. ada lah sebelas jenis mah. Dari cutting sampai Beauty Class, yang sanggul sendiri, pasang kemben sendiri lho! Heuheuheu..
Saya : keren, Bu! Keren!
Ibu : dulu Ibu kan nggak tinggal sama orangtua, tapi sama kakak. soalnya usianya jauh, Neng! Jadi dibiayai kakak, terserah deh Ibu mau apa juga.
Saya : Oh, jadi Ibu anak kakak ya, Bu. Heuheuheu..
Ibu : Heuheuheu.. Ibu mah kalau mau ujian teh kayak pindah rumah aja. Bawa rak, bawa galon, bawa ah pokoknya lengkap-kap-kap deh.
Saya : Oh, gitu!!
Ibu : Iya, kan penilaiannya bukan cuma dari hasil (Like this, Bu!). posisi berdiri, sikap, pokoknya ribet lah
Saya : dilihat juga penataan peralatan ya, Bu.
Ibu : Ya iyalah, Neng. makanya kalau Ibu ke salon di sini suka bawel. Ada Neng, di salon yang sebelah sana (sebelah mana ya, Bu?) ada yang Ibu suka cara nyalonnya. David, meskipun cowok tapi cuttingnya oke. Pas di sini Ibu heran, kok kalau facial gerakannya cuma delapan kali padahal harusnya tiga puluh empat kali (ap-pppaaaa???)
Saya : Oooh.. (maaf Bu, tidak berminat. hehe). Terus kenapa Ibu nggak buka salon aja?
Ibu : Heuheuheu.. nggak tahu nih Ibu teh malah buka warung. Tapi dulu Ibu suka terima panggilan kalau ada yang mau facial. Tuh, Ibu itu pernah perawatan sama Ibu. Waktu itu dari jam dua siang sampai jam tujuh malam, Neng!!
Saya : wooooooow... Buka salon aja atuh, Bu! (maksa)
Ibu : Pengen sih, Neng. Ntar lah kalau rumah di RW 4 udah beres. Heuheuheu.. Pengennya buka salon buat muhrim aja (muhrim aja?? muslimah kali, Bu?)
Saya : Beneran nih, Bu??? Salon Muslimah?
Ibu : Iya, salon muslimah. Heuheuheu.. kan di sini banyak mahasiswi. mereka juga kan pengen dimanja-manja.
Saya : Bener banget, Bu. Temen-temen juga banyak yang nyari tuh.
Ibu : Doa'in ya, Neng. Heuheuheu..
Saya : Eh Bu, buka kursus kecantikan aja atuh sekalian!
Ibu : Hmm.. boleh sih kalau Neng mau (???), nggak usah beli alat-alat, udah ada kok di Ibu
Saya : Hmmm...boleh juga, Bu. heuheuheu...
Emangnya Kamu Lurah??
17 Maret 2010 jam 20:36
Sore itu, seperti sore-sore biasanya, langit teduh memayungi anak-anak yang bermain galasin di lapangan berumput. Gelak tawa mereka membuat para sesepuh tergoda untuk ikut andil merayakan suasana kekerabatan, berbaur dalam bincang santai di pelataran rumah Pak RT.
Di teras sebuah rumah, seorang gadis kecil tampak duduk cemberut.
“Lho, ini anak Mamah kok malah duduk sendirian? Nggak ikut maen, Neng?”
“Huuuu, sebel. Nggak diajakin main, Maaah!”
“Oooh, gituuu. Ya udah, main mah main aja sana. Nggak usah diajak-ajakin kan biasanya juga. Pada lupa ngajak kali.”
“Aaah, nggak mau. Sebel! Sebel! Sebel!”
“Eeeh, pundungan. Main aja kok repot. Masa mau nunggu undangan dulu, emangnya kamu Lurah.”
De Ziiing!
Si gadis kecil itu kemudian berjalan menuju lapangan.
Sesampainya di lapangan, teman-teman dengan riang menyambutnya.
“Iiih, kenapa nggak ngajak aku main sih? Kalian mah jahat ah nggak ngajak-ngajak. Udahan dulu dong main galasinnya, ulangi dari awal. Kan aku baru datang.”
“Lho, kirain kamu bakalan datang sendiri. makanya nggak dijemput.”
“Udah kok, tadi aku ke rumah kamu. Aku panggil-panggil nggak ada jawaban, kirain lagi bobo.”
“Hmm,, gitu ya. Ya udah deh, terusin mainnya. Aku ikutan yaaaaa.”
“Ayooooooo”
ketika merasa dianaktirikan, bisa jadi justru Anda yang mengibutirikan
Sore itu, seperti sore-sore biasanya, langit teduh memayungi anak-anak yang bermain galasin di lapangan berumput. Gelak tawa mereka membuat para sesepuh tergoda untuk ikut andil merayakan suasana kekerabatan, berbaur dalam bincang santai di pelataran rumah Pak RT.
Di teras sebuah rumah, seorang gadis kecil tampak duduk cemberut.
“Lho, ini anak Mamah kok malah duduk sendirian? Nggak ikut maen, Neng?”
“Huuuu, sebel. Nggak diajakin main, Maaah!”
“Oooh, gituuu. Ya udah, main mah main aja sana. Nggak usah diajak-ajakin kan biasanya juga. Pada lupa ngajak kali.”
“Aaah, nggak mau. Sebel! Sebel! Sebel!”
“Eeeh, pundungan. Main aja kok repot. Masa mau nunggu undangan dulu, emangnya kamu Lurah.”
De Ziiing!
Si gadis kecil itu kemudian berjalan menuju lapangan.
Sesampainya di lapangan, teman-teman dengan riang menyambutnya.
“Iiih, kenapa nggak ngajak aku main sih? Kalian mah jahat ah nggak ngajak-ngajak. Udahan dulu dong main galasinnya, ulangi dari awal. Kan aku baru datang.”
“Lho, kirain kamu bakalan datang sendiri. makanya nggak dijemput.”
“Udah kok, tadi aku ke rumah kamu. Aku panggil-panggil nggak ada jawaban, kirain lagi bobo.”
“Hmm,, gitu ya. Ya udah deh, terusin mainnya. Aku ikutan yaaaaa.”
“Ayooooooo”
ketika merasa dianaktirikan, bisa jadi justru Anda yang mengibutirikan
Supertum dan Supertem
18 Maret 2010 jam 10:16
Di suatu pagi yang dingin
Niat jahat untuk bolos kuliah pagi ini sengaja saya utarakan pada seorang teteh.
“Lhoo, kenapa mau bolos, Dek?”
“Kan kemarin baru beres ujian mata kuliah itu, Teh. Berarti kalau bolos juga materinya belum banyak yang harus dikejar. Cuma satu jam ini. Nggak ada kuis kok. Kan ada jatah bolos, hehe.”
“Mending jatah bolosnya dipakai buat nanti kalau benar-benar urgen”
“Jatah bolosnya kan banyak, Teh. Sayang kalau tidak dimanfaatkan”
“Eeeeh, ari kamu, Dek.”
“Kan lapar, Teh. Mau sarapan. Kalau lagi flu harus makan banyak dan enak.”
Eh, Si Teteh malah senyum. Kayak nggak percaya aja nih saya mau melakukan kejahatan akademik. Padahal kan tadinya pengen ditegur, dimarahi, bahkan diseret sampai kelas (hah, lebay).
Sampai datanglah seorang, sebut saja “Bunga”.
“Dari mana? Telat nih, mau udahan.”
“Duuuuuh, ceritanya panjang.”
“Kuliah jam berapa, Ca?”
“Hemmm, jam tujuh. Eh, tapi mau kuliah jam sebelas aja deh.”
“Lho? Bolos?”
“Iya, hehe. Kuliah jam berapa?”
“Jam tujuh juga.”
“Di mana?”
“Oktagon.”
“Wah, sama. Lantai berapa?”
“Lantai dua.”
“Wah, sama. Boleh telat?”
“Boleh.”
“Wah, beda. Toleransinya lima belas menit nih. Sekarang jam berapa?”
“Udah jam tujuh.”
“Euleuh! Hayu atuh. Ini mah kumaha engke we. Kalau telat berarti jadi bolos ya. Heheh.”
Ternyata saya datang bertepatan dengan dosen masuk. Namun karena kelas sudah penuh, bangku yang kosong hanya di deretan terdepan. Ya udah sih ya.
“Baik, sekarang kita akan belajar tentang Sistem Akar…..”
Ternyata saya suka materi pagi ini. Asik. Untung ya nggak bolos ^^
Terima kasih Supertem (Superteman), telah menghindarkan saya bolos di mata kuliah Supertum (Struktur dan Perkembangan Tumbuhan).
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr)
Di suatu pagi yang dingin
Niat jahat untuk bolos kuliah pagi ini sengaja saya utarakan pada seorang teteh.
“Lhoo, kenapa mau bolos, Dek?”
“Kan kemarin baru beres ujian mata kuliah itu, Teh. Berarti kalau bolos juga materinya belum banyak yang harus dikejar. Cuma satu jam ini. Nggak ada kuis kok. Kan ada jatah bolos, hehe.”
“Mending jatah bolosnya dipakai buat nanti kalau benar-benar urgen”
“Jatah bolosnya kan banyak, Teh. Sayang kalau tidak dimanfaatkan”
“Eeeeh, ari kamu, Dek.”
“Kan lapar, Teh. Mau sarapan. Kalau lagi flu harus makan banyak dan enak.”
Eh, Si Teteh malah senyum. Kayak nggak percaya aja nih saya mau melakukan kejahatan akademik. Padahal kan tadinya pengen ditegur, dimarahi, bahkan diseret sampai kelas (hah, lebay).
Sampai datanglah seorang, sebut saja “Bunga”.
“Dari mana? Telat nih, mau udahan.”
“Duuuuuh, ceritanya panjang.”
“Kuliah jam berapa, Ca?”
“Hemmm, jam tujuh. Eh, tapi mau kuliah jam sebelas aja deh.”
“Lho? Bolos?”
“Iya, hehe. Kuliah jam berapa?”
“Jam tujuh juga.”
“Di mana?”
“Oktagon.”
“Wah, sama. Lantai berapa?”
“Lantai dua.”
“Wah, sama. Boleh telat?”
“Boleh.”
“Wah, beda. Toleransinya lima belas menit nih. Sekarang jam berapa?”
“Udah jam tujuh.”
“Euleuh! Hayu atuh. Ini mah kumaha engke we. Kalau telat berarti jadi bolos ya. Heheh.”
Ternyata saya datang bertepatan dengan dosen masuk. Namun karena kelas sudah penuh, bangku yang kosong hanya di deretan terdepan. Ya udah sih ya.
“Baik, sekarang kita akan belajar tentang Sistem Akar…..”
Ternyata saya suka materi pagi ini. Asik. Untung ya nggak bolos ^^
Terima kasih Supertem (Superteman), telah menghindarkan saya bolos di mata kuliah Supertum (Struktur dan Perkembangan Tumbuhan).
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr)
Langganan:
Postingan (Atom)
